Relawan Padamkan Karhutla Samarinda, Safety Jadi Kunci

Ketua Info Taruna Samarinda (ITS), Joko Iswanto alias Jokis. (Foto: Istimewa)

Metroetam.com, Samarinda –   Kobaran api yang melanda sejumlah lahan di Samarinda membuat tim relawan kembali berjibaku di tengah kondisi cuaca kering. Medan yang dipenuhi semak, asap pekat hingga perubahan arah angin menjadi tantangan tersendiri saat proses pemadaman kebakaran lahan berlangsung.

Relawan dari berbagai unsur bergerak bersama petugas pemadam kebakaran, BPBD, TNI-Polri serta warga. Fokus utama mereka adalah menahan pergerakan api agar tidak menjalar dan mendekati kawasan permukiman.

Ketua Info Taruna Samarinda (ITS), Joko Iswanto alias Jokis, mengatakan pemadaman kebakaran lahan membutuhkan kewaspadaan tinggi. Menurut dia, kondisi di lapangan bisa berubah dengan cepat sehingga relawan harus mampu membaca situasi sebelum mengambil tindakan.

“Di lapangan itu kondisinya tidak selalu mudah. Ada panas, asap, semak dan medan yang sulit dijangkau. Karena itu relawan harus benar-benar melihat situasi sebelum bergerak,” ujar Jokis.

Ia menegaskan keberanian membantu korban kebakaran tidak boleh membuat relawan mengabaikan keselamatan. Menurutnya, tujuan utama turun ke lokasi adalah membantu mengendalikan api, bukan mempertaruhkan keselamatan diri.

“Yang paling utama tetap keselamatan relawan. Jangan sampai niat kita membantu memadamkan api justru membahayakan diri sendiri,” tegasnya.

Jokis juga meminta masyarakat yang ikut dalam proses pemadaman memperhatikan perlengkapan dasar. Pakaian tertutup, alas kaki yang melindungi, sarung tangan dan masker atau pelindung pernapasan dinilai penting ketika berada di sekitar titik kebakaran.

“Minimal gunakan pakaian tertutup, sepatu atau pelindung kaki, sarung tangan dan masker. Jangan lupa membawa air minum supaya kondisi tubuh tetap terjaga,” katanya.

BACA  BUMT 2025 Tunjukkan Kesiapan Nusantara Menjadi Pusat Sport Tourism Indonesia

Selain perlengkapan, arah angin menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan. Asap dapat berpindah dengan cepat ketika arah angin berubah. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi jarak pandang sekaligus mengganggu pernapasan orang yang berada terlalu dekat dengan titik api.

“Jangan hanya melihat api yang ada di depan. Perhatikan juga arah angin dan kondisi di sekitar,” kata Jokis.

Ia mengingatkan relawan untuk segera mundur apabila asap semakin tebal atau kobaran api bergerak cepat. Memaksakan diri masuk ke area yang sudah sulit dikendalikan justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan.

“Kalau asap sudah terlalu tebal atau api bergerak cepat, jangan memaksakan diri untuk masuk,” tegasnya.

Jokis turut mengingatkan agar masyarakat tidak mencoba menangani kebakaran seorang diri ketika kobaran sudah membesar. Pelaporan kepada petugas menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan menggunakan personel dan peralatan yang sesuai.

“Kalau apinya sudah membesar, jangan melakukan pemadaman seorang diri. Segera laporkan kepada petugas agar bisa ditangani dengan peralatan dan personel yang sesuai,” ujarnya.

Dalam proses pemadaman, koordinasi antarrelawan juga menjadi perhatian. Setiap anggota tim diharapkan mengetahui posisi rekannya dan tidak meninggalkan kelompok tanpa komunikasi.

“Relawan harus saling menjaga. Jangan sampai ada yang terpisah dari tim. Komunikasi di lapangan harus tetap berjalan dan setiap anggota harus mengetahui posisi rekannya,” katanya.

Menurut Jokis, tugas relawan tidak sebatas membantu memadamkan api. Mereka juga memiliki peran untuk memantau kondisi lingkungan, membantu memberikan informasi dan mengingatkan warga apabila api berpotensi bergerak menuju area lain.

“Relawan bukan hanya membantu memadamkan api, tetapi juga ikut memastikan lingkungan sekitar aman dan memberikan informasi kepada masyarakat,” jelasnya.

Kewaspadaan masyarakat juga dinilai penting untuk mencegah kebakaran lahan semakin meluas. Aktivitas yang berpotensi memicu api, termasuk membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar, diminta untuk dihindari.

BACA  Pembangunan Kukar Meningkat, Kemiskinan Turun, dan Ekonomi Bertransformasi

“Kalau menemukan titik api, segera laporkan. Jangan menunggu api membesar,” kata Jokis.

Ia kembali mengingatkan relawan yang berada di garis depan agar tidak mengabaikan faktor keselamatan selama bertugas. Semangat membantu harus berjalan beriringan dengan kesiapan menghadapi risiko di lapangan.

“Bagi teman-teman yang turun melakukan pemadaman, tetap utamakan safety. Kita ingin membantu, tetapi kita juga harus pulang dengan selamat,” pungkasnya. (MJ)

Iklan